/Bagaimana Seharusnya Kita ? - KAMMI'ERS TELKOM / Bagaimana Seharusnya Kita ?

hasan al-bana

Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya. Sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat dan amal merupakan karakter yang melekat pada diri pemuda, karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertaqwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tidak terdapat kecuali pada diri para pemuda. Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan. Dalam setiap kebangkitan, pemuda merupakan rahasia kekuatannya. Dalam setiap fikrah, pemuda adalah pengibar panji-panjinya. ( Hasan Al-Banna )

Jadwal Shalat Wilayah Bandung

My Shoutbox


ShoutMix chat widget

buletin kammi edsisi ke 2

buletin kammi edsisi ke 2
aktivis vs akademisi

buletin kammi edisi ke 3

buletin kammi edisi ke 3
“Tahun Baru Hijriah Sebagai Momentum Perubahan”

page rank

dm1

dm1

Mediaindonesia.com

Rabu, 18 November 2009

Bagaimana Seharusnya Kita ?


Sekian lama kita berada di jalan dakwah ini semakin banyak dan sangat komplek saja rintangan dan hambatan yang kita hadapi. Mulai dari perkembangan cara bergaul, perkembangan teknologi dan yang lainnya. Mungkin saja salah satunya adalah perkembangan di berbagai bidang ini yang membuat kita menjadi terlena dengan apa yang seharusnya kita kerjakan.
Mulai dari cara bergaul, saat ini banyak para ikhwan dan akhwat (dalam hal ini mahasiswa) para aktivis dakwah yang memisahkan diri dari mahasiswa lain yang memang bukan aktivis, mereka hanya berkumpul dan bergaul dengan segolongan dari mereka saja. Yang terkesan menjauhi para mahasiswa ammah, padahal dakwah untuk semua kalangan bukan hanya untuk sebagian golongan saja.
Dakwah bukan berarti mengasingkan diri. Karena kita mempunyai objek dakwah yang pasti, yaitu orang orang yang dekat dan berada di sekeliling kita. Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk menghindari mereka. Kalau kita menghindari mereka, sama saja kita menghindari objek dakwah atau dakwah dengan memilih-milih medan.

Dakwah di kampus contohnya, kita tidak bisa hanya memberikan contoh dengan sikap dan perilaku saja, tapi kita juga harus berinteraksi dan mencoba memahami dunia mereka. Kita tidak bisa berharap lebih hanya dengan menunjukkan sikap bahwa akhlak seorang muslim adalah seperti ini, tapi kita juga harus mengerti dan mencoba untuk membantu keadaan mereka.
Sama saja ketika para aktivis dakwah yang enggan untuk pergi atau ngumpul-ngumpul di sebuah cafe atau sejenisnya, padahal cafe dan yang sejenisnya bukanlah tempat hina ataupun tempat yang haram untuk di kunjungi oleh para aktivis dakwah. Cafe dan yang sejenisnya masih bisa untuk dijadikan tempat mangkal para kader dakwah. Karena dakwah pun ada dimana-mana. Seperti halnya seorang Imam besar Hasan Al Banna, yang selalu berdakwah diwarung-warung kopi. Dan cafe adalah warung kopi modern. Jadi, cara berdakwah pun harus dimodernisasi, tapi tetap dalam koridor-koridor yang syar’i.
Perkembangan teknologi seakan membuat kita menjadi seseorang yang memilki dunia sendiri, tidak ada orang lain, tidak perlu lagi basa basi dan lain-lain. Padahal ikatan persaudaraan antar sesama muslim tidak hanya dengan bertemu ketika di suatu majelis ilmu ataupun majelis yang lain. Tapi membutuhkan perhatian terhadap sesama, bertatap muka, berjabat tangan, dan mungkin perlu sedikit canda. Jadi dengan begini kita harus lebih mengetahui keadaan saudara kita sendiri.
Seorang aktivis dakwah dituntut untuk selalu tahu tentang permasalahan saudaranya dan berusaha membantu memberikan solusi. Sehingga diharapkan, rasa persaudaraan itulah yang mendorong satu dengan lainnya menciptakan ikatan tali ukhuwah yang sangat erat. Dan seharusnya tidaklah seorang saudara meminta bantuan atau bahkan belas kasihan kepada saudara lainnya, tetapi seharusnya aktivis dakwah mengetahui apa yang dibutuhkan saudaranya dan membantu sebelum saudaranya meminta bantuan atau bahkan yang menghinakan saudaranya, yaitu meminta belaskasihan.
Masih banyak hal yang harus masih kita perbaiki dan perlu evaluasi dalam kegiatan dakwah yang masih sangat panjang ini. Semoga saja dapat memberikan manfaat dan menjadi cermin bagi diri kita sendiri untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Yang jelas kita hidup di dunia nyata bukan di dunia novel atau dunia yang ideal untuk berdakwah.Maaf kalau seandainya terjadi kesalahan. Tolong beri kritik dan saran yang membangun untuk penulis agar bisa menjadi lebih baik di kemudian hari.

Komentar :

ada 0 comments ke “Bagaimana Seharusnya Kita ?”

Posting Komentar

Si Ikhwan

Selamat Tahun Baru Islam 1431 H

Selamat Tahun Baru Islam 1431 H

My Rate

Inilah KAMMI

Pengikut

detikBandung - detikBandung

milis kammi pusat

Khazanah

 

Eramuslim: Info Umat

Eramuslim: Berita Palestina

Eramuslim: Pemuda & Mahasiswa

This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by kammitelkom